Terpaan gelombang digitalisasi telah dirasakan oleh semua sektor usaha, bahkan dampaknya juga dialami biro penyelenggara perjalanan umroh dan haji dalam memberikan pelayanan kepada jemaahnya.


Dengan kemajuan teknologi yang canggih, tuntutan konsumen terhadap layanan yang maksimal juga semakin tinggi sehingga biro travel pun merespons hal ini dengan cepat. Inilah yang melatarbelakangi MuslimPergi hadir sebagai startup penyedia sistem manajemen informasi bagi biro travel.


MuslimPergi menawarkan sistem aplikasi manajemen travel umroh dan haji yang memudahkan pengelolaan secara terintegrasi bagi penyelenggara perjalanan ibadah umroh (PPIU) agar dapat mengikuti tren digital yang terjadi. Startup yang berdiri pada awal 2018 ini didirikan oleh Mustofa Said Bamuzaham (41) bersama dengan tiga orang rekannya yaitu Ardian Yuli Setyanto, Muhammad Rijalul Kahfi, dan Prasetyo Fendriyanto. Mustofa memiliki latar belakang sebagai konsultan akuntansi dan audit yang pernah menangani salah satu biro travel umrah dan melihat secara langsung proses bisnisnya.


“Kami berangkat dari keprihatinan atas masih tradisionalnya proses bisnis yang dijalankan PPIU serta banyaknya oknum biro travel yang pada akhirnya mengorbankan jemaah,” ujar Mustofa yang menjabat sebagai CEO MuslimPergi kepada SWA Online.


Ia mengungkapkan bahwa masih banyak biro travel umroh yang sangat konvensional dan manual. Umumnya masih sebatas menggunakan aplikasi chat messenger dan bahkan tidak memiliki website. Tujuan MuslimPergi adalah menjadi sebuah solusi agar PPIU naik kelas. “Target kami adalah ketika biro travel umrah sudah di-scale up maka dampaknya terhadap pelayanan terhadap jemaah akan lebih maksimal. Dari hulu ke hilir dapat lebih transparan,” tambahnya.




Dengan menggunakan paket sistem IT yang disediakan oleh MuslimPergi yang dibuat dengan berbasis web serta aplikasi Android dan iOS, maka manajemen travel umroh dapat mengelola lebih mudah mulai dari data jemaah, keagenan, pembayaran, jadwal keberangkatan dan auto manifest. Nantinya aplikasi dan website tetap menggunakan nama biro travel itu sendiri (whitelabel).


Model bisnis yang diterapkan adalah B2B dengan para biro travel yang dilakukan dengan berlangganan secara bulanan sebesar Rp75 ribu per jemaah yang diberangkatkan. Hal ini dinilai tidak memberatkan biro travel untuk berinvestasi besar di depan secara langsung dengan membeli sistem. Sementara dari segi pendanaan, MuslimPergi masih mengandalkan modal sendiri dari pendanaan internal atau bootstrapping dengan jumlah yang tidak disebutkan.


Mustofa mengakui pada tahun 2019 ketika produk mereka siap dipasarkan, pada mulanya sempat ditolak dan ditertawakan oleh calon kliennya karena dianggap sesuatu yang tidak penting. Kendati demikian pada bulan Juli 2019, dunia travel di bidang umrah dan haji dikejutkan oleh sistem umroh digital yang dikembangkan oleh dua unicorn Indonesia yakni Tokopedia dan Traveloka.


“Hal ini memberikan efek kejut bagi para penyelenggara perjalanan umrah. Momentum inilah yang dimanfaatkan dan menjadi peluang MuslimPergi bahwa pentingnya penggunaan sistem digital dalam manajemen bisnis travel umrah. MuslimPergi tidak masuk segmen marketplace, melainkan solusi manajemen digital yang terintegrasi agar penyelenggara umrah lebih profesional. Kami berupaya merapikan sisi manajemen biro travel demi tercipta efisiensi baik bagi biro, agen, dan jemaah,” tutur Mustofa.


MuslimPergi menyediakan aplikasi bagi biro travel, agen dan jemaah. Bagi biro travel dapat memantau data penjualan dari agen dan pembayaran dari jamaah secara realtime, agen travel dapat melihat paket yang dapat dijual dan jumlah seat yang tersisa, serta aplikasi untuk jamaah dengan fitur dari pra-pemesanan hingga panduan saat di Tanah Suci.


Jika mengacu pada data Kementerian Agama ada sekitar 1.200 PPIU. Hingga saat ini sudah ada 15 penyelenggara umrah yang menggunakan sistem MuslimPergi. “Target kami adalah mendigitalisasi lebih banyak biro travel agar lebih profesional, tata kelola manajemen lebih baik dan jemaah terlayani dengan maksimal,"jelasnya.


Apalagi pemerintah Arab Saudi menargetkan kapasitas untuk bisa melayani 30 juta jemaah haji dan umroh per tahun pada 2030. “Peluang inilah yang coba kami tangkap dengan mendigitalisasi biro travel yang ada di Indonesia agar dapat melayani jemaah dengan lebih maksimal. Dengan manajemen yang semakin profesional, maka akan berbanding lurus peningkatan penjualan perjalanan umrah dan haji,” ujar Mustofa mengakhiri.


Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id via Kumparan